Sunday, October 23, 2016

Trip ke Bali Part # 3 (Rafting di Ubud)

Sambungan dari Catper Trip ke Bali Part # 2 (Bali Nightlife) Pagi-pagi sekali kami harus bangun dari tidur dibantu oleh alarm HP, setelah tadi malam habis sedikit berparty-party ria.  Mungkin karena kualitas tidur saya cukup baik atau saking semangatnya karena mau ke Ubud sehingga saya tidak merasa terlalu mengantuk di pagi itu. Setelah semua selesai mandi, kami langsung menuju cafe untuk sarapan pagi kemudian ke lobby hotel untuk menunggu jemputan yang akan mengantar kami ke TKP. Supaya perjalanan lancar maka pagi itu saya putuskan untuk hubungi kembali pemilik travel agent untuk memastikan jemputan kami, informasi dari beliau bahwa sopir sudah berada di sekitar hotel tempat kami menginap. Ternyata memang benar bahwa sopir yang akan menjemput kami sudah berada di sekitar lokasi penginapan, hemm ontime juga pikir ku, malahan kami yang hampir ngaret hehe...



Setelah semua perlengkapan dipastikan tidak ada yang tertinggal maka kami langsung meluncur menuju Ubud, perlengkapan yang kami perlukan untuk moment kali ini adalah masing-masing 1 stel baju dan celana ganti beserta CD nya hehe.. Maklum kegiatan kali ini adalah aktifitas rafting (arung jeram) dan bermain air, yang sudah pasti akan berbasah-basah ria nantinya. Sekita jam 07.00 pagi (kalau tidak salah, soalnya agak lupa) kami langsung meluncur menuju Ubud dengan travel yang sudah disediakan oleh Graha Adventure selaku travel agentnya, yang pasti pelayanan antar jemput sudah termasuk harga dalam paket rafting, rafting sendiri akan dilakukan tepatnya di Sungai Ayung, Ubud, Bali. Perjalanan ke Ubud sendiri tidak terlalu jauh dari Kuta, sementara cuaca terlihat sangat cerah dan bersahabat. Dikarenakan hari itu adalah hari Minggu sehingga lalu lintas kendaraan di sepanjang jalan menuju Ubud tidak macet alias ramai lancar. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat unik dan menarik karena dipengaruhi oleh budaya Hindu nya yang sagat kental terutama mempengaruhi bangunan-bangunan yang ada disana.



Sesampai di tempat yang dituju alias markas Graha Adventure kami disambut dengan ramah oleh bapak pemiliknya, tempat berkumpulnya lumayan besar dan didesain seperti cafe dengan arsitek nuansa pedesaan Bali yang atapnya terbuat dari ilalang, furniturenya sendiri banyak menggunakan potongan kayu-kayu besar yang sengaja lekuk-lekuk kayu nya tidak dibuang sehingga memberikan kesan sangat natural dan pastinya serasi dan nyaman. Disana tamu disiapkan makanan-makanan kecil dan minuma hangat seperti teh hangat atau kopi Bali yang khas yang pasti serba gratis kecauli minuman beralkohol. Banyak turis asing maupun lokal yang sudah berkumpul disana, sudah pasti tujuannya juga akan melakukan kegiatan rafting seperti kami. Tapi nampak terlihat lebih banyak turis asingnya dibanding lokal. Sebelumnya saya sempat berfikir sesampai disana kami akan langsung menuju TKP, namun karena kegiatan tersebut terbagi dari beberapa kloter atau grup sehingga kami harus sabar menunggu giliran grup kami tiba jadwalnya.



Lumayan banyak berbincang dengan Bapak pemilik travel agent tersebut khususnya mengenai customer-customernya. Jadi cerita Beliau, bahwa sebagian besar tamu yang datang merupakan turis asing,  untuk segi promosinya pun bisa dibilang nyaris tanpa promosi. Tetapi promosi sebenarnya dilakukan atau berjalan dari tamu yang sudah pernah menggunakan jasanya, mereka informasi biasanya menginformasikan lewat mulut ke mulut kepada sesama teman, keluarga atau kolega mereka yang ingin ke Bali khususnya kegiatan rafting. Selain itu aplikasi TripAdvisor juga sangat membantu kata Beliu, karena calon tamu juga biasanya mendapatkan referensi dari review tamu yang sudah pernah rafting di tempat Beliau, dan yang pasti efek dari TripAdvisor juga berlaku kepada kami salah satunya,  karena referensi dan review positif di TripAdvisor lah yang membuat kami memilih Graha Adventure untuk order ke Bapak kata saya hehehe...



Setelah mendapatkan giliran, maka grup kami dipersilahkan untuk bersiap-siap. Disana sudah disediakan loker untuk menaruh barang-barang seperti baju ganti dan lain-lain, kecuali barang berharga seperti HP, dompet tetap harus dibawa untuk nanti ditaruh di tas guide yang sudah disediakan. Tasnya penyimpanannya sendiri dirancang khusus kedap air agar barang yang disimpan tidak basah. Semua anggota diwajibkan memakai pelampung walapun sudah bisa berenang, selain pelampung helem juga wajib dipakai untuk menghidari hal-hal yang tidak diinginkan seperti meminimalisir dampak benturan jika terjadi. Setelah semua perlengkapan sudah OK, kami langsung berangkat menuju TKP dengan diantar angkutan khusus disebabkan karena lokasi sungainya cukup jauh dari tempat markas tersebut.



Perjalanan menuju TKP sangat menyenangkan karena sepanjang jalan disuguhi pemandangan sawah-sawah serta perkampungan khas Ubud yang sangat eksotis. Rombongan kami terdiri dari 2 grup, pertama grup turis Australi ada 4 orang terdiri dari satu keluarga muda yaitu : Suami, Isteri, Anak Laki-laki seumuran 7 Tahun dan Anak Perempuan yang tampak tidak jauh terpaut umurnya dengan anak laki-laki sebelumnya, ditambah 1 orang Ipar atau teman si Suami atau Isteri mungkin dan masih muda juga. Untuk grup kami terdiri dari kami bertiga serta satu keluarga turis asal Singapura ras Chinese yang terdiri Bapak, Ibu dan Anak laki-lakinya yang kira-kira seumuran anak kuliahan. Sepanjang perjalanan di dalam angkutan sangat ramai oleh candaan tiga orang guidenya dan kami. Setelah angkutan berhenti karena sudah sampai, sempat saya mengira bahwa kami sudah dekat dengan sungai Ayung yang dimaksud, tapi ternyata masih jauh harus berjalan kaki lagi melewati area persawahan dan hutan yang cukup lebat. Serta menuruni banyak anak tangga menurun menuju sungai, anak tangganya cukup licin karena masih basah. Sekitar 15 menit kami berjalan kaki, namun semua rasa capek tidak terasa karena disepanjang jalan pemandangannya sangat indah.





Sesampainya kami di TKP alias Sungai Ayung, saya langsung terpesona dengan pemandangan sekitar, dari sungai yang sangat jernih dan bening dengan arus yang deras serta hutan lebatnya. Banyak terlihat rombongan-rombongan dari travel agent lain yang juga lewat di sungai itu, karena hari itu adalah hari Minggu sehingga kondisi ramai. Rasanya saya sudah tidak sabar lagi untuk langsung terjun ke sungai, namun pada saat itu kami tidak langsung eksekusi karena para guide harus mempersiapakan perahu karetnya terlebih dahulu. Disela waktu menunggu, kegiatan narsispun sudah tak terelakan, cekrek-cekrek momen alaypun telah diabadikan dengan selamat hehe.. Setelah semua dinyatakan siap oleh guide, maka kami langsung menuju perahu karet dan duduk manis di tempatnya masing-masing. Saya sengaja memilih tempat duduk paling depan karena ingin merasakan sensasi lebih ketika menemukan jeram. Sebelum start kami di briefing dahulu terkait prosedur-prosedur yang harus dilakukan ataupun jika terjadi keadaan darurat.






Setelah semuanya dipastikan siap, kami langsung start... Si rombongan bule Australi dengan perahu sendiri serta guide sendiri juga, begitu juga romnongan kami. Awalnya jeramnya tidak terlalu besar, tapi semakin kesini jeramnya semakin besar dan emejing. Wuih... sesasinya luar biasa, apalagi ketika menemukan jeram yang sangat deras dan besar, antara takut jatuh dan penasaran campur aduk jadi satu hehehe...(lebay ya?). Hampir sepanjang kegiatan itu kami tidak henti-hentinya menjerit dan tertawa apalagi si guide selera humornya bagus sehingga ada saja bahan candaanya. Apabila kami berpapasan dengan rombongan lain maka biasanya kami akan beradu siram air dengan mereka, sehingga suasana menjadi tambah heboh dan penuh tawa. Kadang terjadi tabrakan demi tabrakan dengan perahu turis sehingga mengakibatkan perang airpun tak terelakan, namun justru disitulah yang bikin semuanya jadi heboh dan emenjing. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat luar biasa indah, hutan lebat dan tebing batu hitam tinggi yang mengapit sungai tersebut. Tebing-tebing banyak yang sengaja dipahat dengan berbagai motif pahatan  yang sempurna sehingga menjadikan perpaduan yang sangat menajubkan antara tebing, sungai dan karya seni. Sayang saat itu kami tidak bisa cekrek-cekrek untuk mengabadikan momen, karena HP saya berada di dalam tas si guide.






Di tengah-tengah aktifitas jeram, kami sempat singgah untuk melakukan aktifitas lain. Ada dua titik yang mejadi tempat persinggahan, pertama adalah di lokasi air terjun. Disana kami semua turun dari perahu untuk bermain-main air di air terjun tersebut serta bernarsis ria. Setelah beberapa menit disana kami lanjutkan rafting. Setelah cukup lama kami mampir lagi dipersinggahan ke dua, disini kami turun lagi dari perahu dan berenang-beranang serta naik-naik tebing dan terjun lagi ke air. Di tempat persinggahan ke dua ini suasananya sangat ramai, karena hampir semua turis yang rafting pada saat itu juga singgah untuk sekedar minum-minum atau hanya duduk-duduk. Disini ada terdapat warung pinggir sungai yang menyediakan berbagai minuman dari es kelapa muda, softdring dingin, serta minuman yang mengandung alkohol. Selain menyediakan minuman warung itu juga menyediakan Pop Mie serta makanan kecil lainnya. Kami memutuskan untuk membeli Pocari Sweat yang tujuannya untuk menggantikan ion tubuh yang sudah mulai terkuras oleh kebanyakan tertawa :D dan kacang kulit dengan tujuan untuk aktifitas jari agar kembali aktif dan tidak kaku, serta tidak lupa untuk narsis-narsis lagi hehe... :D







Setelah merasa puas untuk berenang dan terjun dari tebing, maka kami segera kembali melanjutkan perjuangan. Keseruan terjadi sepanjang perjalanan, kami sangat menikmati kegiatan itu. Tidak rugi jauh-jauh datang dari Kuta ke Ubud, karena semua benar-benar worth it. Perjalanan semakin kesini kami banyak melewati area persawahan indah dan villa-villa mewah di pinggir sungai atau diatas tebing. Total perjalanan rafting kira-kira tiga sampai empat jam, sangat puas pastinya. Akhirnya kami sampai juga di ujung perjalanan atau tempat tujuan terakhir, yang artinya kami harus menyudahi keseruan ini. Tempat pemberhentian ini terletak disamping vill mewah, namun pas melihat anak tangga untuk menuju ke atas atau jalanan kampung kondisinya menanjak sangat tinggi dan jauh, hedehh dalam hatiku ini bisa membuat kaki menjadi pegal dan keram nantinya. Namun saya tidak khawatir karena kemungkinan besar keram itu tidak akan terjadi pada kaki saya, karena kaki saya sudah terbiasa dipakai beraktifitas jogging, kecuali yang jarang jogging pasti nanti malamnya akan keram hehehe..



Cukup melelahkan ternyata perjalanan ke atas dengan menaiki ribuan anak tanggal, yang pasti ngos-ngosan sekali saya. Tapi saya sedikit heran ketika melihat turis-turis asing yang berjalan seperti tidak ada lelah-lelahnya, apalagi pada saat itu ada turis Jepang yang sudah tua namun sangat lincah sekali berjalan di tangga itu. Setelah sampai di atas di tepi jalan, kami tidak langsung naik angkutan, karena menunggu sebentar angkutannya belum datang dari sehabis mengantar rombongan sebelumnya. Setelah jemputan datang kami langsung naik dan meluncur menuju tempat berkumpul pertama tadi. Akhirnya sesampai disana kami harus mengantri kamar mandi untuk berbilas, disana ada tersedia dua kamar mandi prasmanan yang terdiri untuk pria dan kamar mandi wanita (saya bilang prasmanan karena kamar mandinnya dibikin beser dengan beberapa pancuran air atau shower, jadi yang mandi gabung). Saya memilin kamar mandi privat satu kamar.



Setelah kegiatan berbilas dan berganti pakaian selesai, kami langsung diarahkan untuk makan siang, namun sebenarnya pada saat itu sudah bukan jam makan siang lagi tetapi sudah mulai sore. Makanan disediakan prasmanan dengan berbagai menu dan yang pasti semua menu sengaja merupakan sajian halal kata Bapak pemiliknya, agar aman dimakan bagi semua umat. Pada saat itu cuaca berubah total menjadi hujang yang sangat deras dan angin kencang berbeda sekali dari keadaan sebelumnya yang sangat cerah. Disana peserta juga ditawari apabila ingin membeli dokumentasi kegiatan rafting barusan, dokumentasi yang ditawarkan berupa foto dan video, namun juga bisa menebus salah satunya saja. Kami memilih untuk membeli dua-duanya yaitu foto dan videonya, ongskos penebusan dokumentasi sendiri diluar dari paket rafting yang sudah dibayar sebelumnya. Setelah semua sudah benar-benar selesai kami memutuskan untuk langsung kembali pulang ke Kuta, yang pasti diantar kembali oleh driver yang menjemput kami pagi tadi. Sepanjang perjalanan hujan deras belum juga berhenti, kami sempat terjebak sedikit macet karena ada pohon tumbang disana. Drivernya cukup asik juga diajak ngobrol, sehingga untuk perjalanan besoknya kami memilih order Bapak itu sebagai drivernya. Sampai di Kuta seingat saya waktu sudah magrib, kami lanjut untuk istirahat tidur sebentar karena sudah sangat mengantuk karena disebabkan sebelumnya sudah melek seharian. setelah istirahat dan tidur sebentar selesai saya langsung mandi lagi dan bersiap berangkat lagi untuk mencari makan malam dan kelayapan ke Legien lagi hehe... OK sampai disini dulu ceritanya, berlanjut ke part # 4.

4 comments:

  1. Aku pernah ke Ubud, sampai sana malam hari, pas paginya pemandangan keren banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya indah sekali kalo pagi... Terima kasih ya sudah berkunjung ke blog saya...

      Delete
  2. Waah..di Bali juga ternyata ada rafting yak. Selama ini tahunya hanya pura dan pantai. Hahaha. Seru raftingnya. Ceria suasananya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba setau saya di Bali ada 2 sungai untuk Rafting di Ubud hehe.. Terima kasih ya sudah berkunjung ke blog saya :D

      Delete