Wednesday, May 25, 2016

Bolos Kerja tapi Batal Jalan ke Kampung Merasa

Moment ini kebetulan terjadinya sudah cukup lama, sekitar pertengahan tahun 2014. Sebenarnya di hari sebelumnya sudah terjadi satu masalah di jalan yang menghubungkan antara desa Labanan dan office tempat kami bekerja, yang mengakibatkan terganggunya lalu lintas kepulangan kami dari office ke Labanan. Pada sore itu masalah tersebut sebenarnya belum seselai, namun karena ada jalan pintas untuk menuju pulang ke desa Labanan sehingga perjalanan pulang menjadi cukup lancar.

Keesokan harinya saya dan karyawan lainnya bersiap-siap seperti biasa untuk berangkat bekerja. Subuh pukul 05.00 Wita adalah jam keberangkatan bis yang mengantar kami ke office dan tambang. Awalnya tidak ada kecurigaan, tidak lama kemudian kami mendapatkan informasi bahwa masalah kemarin belum selesai. Dan kami diminta untuk menunggu kepastian sampai beberapa jam kedepan apakah lanjut atau kembali ke rumah masing-masing. Namun satu jam sudah berlalu, tetapi kabar terbaru kami masih belum lewat.

Kondisi tempat berkumpul sekarang sudah beruha menjadi terang, dan semakin ramai. Kebetulan tempat berkumpul kami adalah pasar pagi di desa Labanan pada waktu itu, sejarang sudah berpindah tempat. Pasar pagi simpang empat Labanan saat itu sudah mulai dipadati oleh  penjual sayur, buah, cireng, nasi kuning dan bahan-bahan pokok lainnya. Pasar sayur ini terbilang ramai dikunjungi oleh warga sekitar Labanan yang akan membeli kebutuhan sehari-hari.

Tampak belum ada tanda-tanda bis akan berangkat ke tambang, daripada bengong kami gunakan waktu tersebut maka kami gunakan untuk berbelanja apapun yang menarik dasana. Kebnyakan anak-anak pada beli pentol, yang lain beli buah dan snack-snack serta gorengan. Setelah cukup lama menunggu di sana, namun tampak belum ada juga informasi mengenai keberangkatan. Sebagian dari kami banyak yang berpencar dan kembali ke mess ataupun kost masing-masing, saya memilih ke kost teman-teman operator daripada kembali ke kost walaupun kost saya hanya diseberang pasar tersebut.

Di kost kami habiskan waktu dengan menonton tv ataupun bercengkrama dengan teman-teman lainnya. Karena saat itu masih di jam sarapan pagi, sebagian dari kami memilih untuk sarapan nasi kuning yang dibeli di pasar depan kost. Setelah kenyang sehabis sarapan, saya mendapatkan informasi dari salah satu pengawas bahwa salah satu jalan bisa dilewati. Tidak lama berselang jemputan telah tuba dibdepan kost. Saya, Elis, Marta, Anggih dan Pak Ali sebagai driver langsung berangkat. Jalan yang kami lalui melewati desa Tumbit, perjalanan itu merupakan perjalanan pertama saya di desa Tumbit. Kondisi jalan di desa tersebut boleh dibilang bagus karena hampir semuanya aspal. Pemukiman warga cukup padat, sebelumnya saya sempat tidak percaya karena secara geografis lokasi desa Tumbit berada jauh dari Labanan dan masuk area hutan. Kondisi jaringan seluler juga mantap, fasilitas umum juga terbilang lengkap dari sekolah, tempat ibadah, pustu dan lain-lain.

Perjalanan kami menuju arah barat dari desa Tumbit, lumayan jauh sudah perjalanan kami lewati. Sebelum sampai di persimpangan menuju ke arah tambang, kami mendapat informasi dari salah satu karyawan perusahaan kami bekerja bahwa jalan masih diblokir dan belum bisa dilewati. Tanpa pikir panjang, kamu langsung putar balik ke Labanan.

Di tengah perjalanan kami berencana ke desa Merasa, hitung-hitung daripada suntuk di kost. Apalagi kampung Merasa merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Berau. Kampung Merasa cukup jauh dari Labanan, perjalanan sekitar 40 menit. Jalan ke arah Merasa bagus, karena melalui jalan lintas propinsi yang beraspal mulus. Yang belum diaspal hanyalah jalan masuk ke arah kampung Merasa dari jalan poros Kaltim. Penduduk asli Kampung Merasa adalah suku dayak, untuk nama sub sukunya saya kurang paham. Di merasa kampungnya tidak terlalu luas namun cukup padat. Yang paling menarik perhatian saya adalah sungai Kelay yang membelah kampung tersebut, sungainya luas dengan air yang sangat bening. Yang pasti bikin ingin langsung becebur dan berenang setelah melihat bersih dan beningnya air tersebut. Selain sungai ada beberapa bukit dan gua kapur yang merupakan tempat wisata di daerah ini. Disini acara-acara adat masih sangat sering dilaksanakan apalagi jika musim panen. Namun acara yang paling terkenal di Merasa adalah acara pada akhir Desember dan awal Januari setiap tahunnya, karena bertepatan dengan Natal dan Tahun Baru.

Sudah cukup jauh perjalanan kami, namun karena sesuatu dan lain hal rencana kami batalkan. Kami langsung putar balik menuju ke Labanan. Setelah sampai di Labanan kami berpencar ke kost atau mess masing-masing. hemmm batal deh rencana jalannya...

2 comments:

  1. Ahhhh kadang dlm perjalanan selalu ada hal yg membuat batal atau beralih ke tempat lain... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya begitulah sepertinya hehehe.... terima kasih ya sudah berkunjung ke blog saya :)

      Delete